Hmmm.. Masih seperti kemarin. Rasa iri muncul lagi kalo liat foto temen2 yang pada bahagia di FK. (sorry, banyak ngeluh yah aku :'( )
Katanya sih, "mbak-mbak" penunggu kos ku ini suka gangguin aku loh. Bukan dalam arti nampakin diri or kasi denger suara-suara aneh gitu sih. Tapi katanya kalo pikiranku lagi kacau gara-gara pikir soal FK itu dia gangguin biar aku tambah kacau gitu pikirannya, nangis meratapi diri kenapa aku ga bisa masuk FK tahun ini, katanya sih "dia" bikin biar aku ga kerasan gitu kuliah disini.
Ceile mbak -_- ga usah kamu gangguin biar ga kerasan kuliah disini juga aku emang masih berasa ga kerasan disini. Pengen cepet keluar dari sini, pengen cepet-cepet masuk FK aja -_- cucian deh "mbaknya".
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - -
Kemaren dapet artikel bagus nih. Ceritanya tentang mengejar cita-cita gitu. http://filsafat.kompasiana.com/2011/09/19/apakah-cita-cita-dalam-hidup-anda-sudah-tercapai/
ada beberapa kesimpulannya yang buat aku berpikir. Ini dia:
Kesempatan datang tidak tepat waktu. Ada sebuah tawaran pekerjaan/sekolah disaat dimana kita tidak siap menerimanya. Misal kendala waktu yang terbatas, sedang hamil atau tidak bisa meninggalkan hal lebih penting untuk dikorbankan dalam meraih cita-cita itu sendiri
Yup, kesempatan kadang emang datang ga pada waktu yang tepat. Aku kepengen jadi dokter tapi duit papa belom turun. Jadilah gagal, ga bisa daftar swasta taun ini. Sedih iyalah, kecewa pasti, putus asa ga usah ditanya lagi. Kenapa untuk sesuatu aja susah banget. Rasanya itu, seperti dianak tirikan sama Tuhan. Kenapa temen-temen deketku pada bisa masuk ke fakultas-fakultas impiannya tapi aku enggak sendiri? Hey, aku juga manusia, wajar dong kalo aku ada merasa iri sama mereka. Beruntungnya mereka! Aku cuman bisa inget-inget terus salah satu ajaran welas asih Dewi Kwan Im : Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia. Ya, semoga memang Tuhan punya rencana yang indah buat aku dengan memasukkan aku disini.
Faktor U atau umur. Kejarlah semua peluang dan kesempatan ketika kalian masih muda. Beberapa lowongan di media cetak selalu memberikan syarat umur maks. Maka ketika masih kinyis-kinyis, ambilah kesempatan itu. Baik untuk bekerja maupun sekolah. Karena makin berumur maka kerja otak untuk merekam semua memori menjadi lamban dan terbatas.
Yah, memang itulah yang juga selalu ada dalam pikiranku sampe malem ini. Umur. Kalo aku selesain di fakultas ini 4 tahun, dan setelah itu baru aku daftar kedokteran, berarti aku daftar dokter itu umur 23! Hey, kalo umur segitu baru daftar dokter, kapan aku kerjanya? Kapan aku mulai ngumpulin uang buat masa depan. Umur 28 lulus masa duit yang dipegang masih kek sebanyak yang dipegang sama anak SMA, secara belom kerja tapi kuliah lagi. Selain itu, aku takut kalo saat udah 23 nanti, aku dah males mau kuliah lagi. Aku takut aku udah lupa, susah, dan malas mengingat lagi pelajaran-pelajaran IPA. Semakin bertambah umur seseorang, semakin mudah dia memahami sesuatu (katanya), tapi seperti kata-kata diatas. Apa ga juga tambah tua kerja otak untuk merekam memori menjadi lamban dan terbatas?
Inilah yang selalu ada didalam hatiku, sampe saat ini masih belom bisa aku temuin jawabannya.
Berani ambil resiko. Nah ini yang terkadang paling sulit dilakukan. Ketika kesempatan datang dan kita harus berani mengorbankan sesuatu yang penting. Misal meninggalkan keluarga sementara waktu dan tinggal di tempat yang berjauhan dengan keluarga. Salut kepada teman-teman yang berani mengambil jalan ini, bahkan banyak teman yang menitipkan anak-anaknya ke keluarga atau orang tua, sementara mereka tinggal di tempat yang berbeda pula. Dan ternyata saya bukanlah orang yang berani mengambil resiko ini karena menganggap keluarga yang utama.
Memang. Setelah ada uang nya, apakah aku berani mengambil resiko meninggalkan fakultas yang aku pelajari saat ini? Apa ga sayang kalo misalnya udah 2 tahun. Ibaratnya udah sampe tengah-tengah gitu. Karena sekali kita salah langkah, semua jalan yang ada di depan kita akan berantakan. Aku takut nanti ada apa-apa saat kuliah dokter. Biarpun mama ku bilang ga usah dipikirin dulu selama masih belom ada uangnya tapi tetep aja pikiran ini selalu muncul dihadapanku. Jadi harus bagaimana?
Kadang aku berpikir, kenapa aku yang masih umur 18 ini sudah harus dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang serba sulit ini. Sebenarnya mungkin orang lain memandang bahwa persoalanku ini hanya sepele jika dibanding dengan perkara-perkara yang lebih besar lainnya. Tapi buat anak umur 18, ini masalah yang complicated banget loh. Rasanya ujian hidup tiba-tiba datang bertubi-tubi. Aku harap aku bisa segera melihat ujung akhir dari semua masalah ini.
Semoga apa yang nanti kutemukan adalah akhir yang bahagia.
No comments:
Post a Comment